abang’s
January 2016
S M T W T F S
« Sep    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  
IPB Badge

Cerita Inspirasi 2

Nama : Audie Erincasari
NRP : C44100034
Laskar : 10

Gedung Astra dan Astri TPB IPB mengadakan sebuah acara yang berbau social yaitu “BAKSOS” pada tanggal 29 agustus 2010 yang lalu. Saat itu aku diberi tahu oleh SR (Senior Resident) lorong 9 yaitu mbak Aisah tentang acara baksos. Tadinya aku hanya berkumpul-kumpul biasa di depan lorongku. Setelah di beri tahu , ternyata acara itu di selengarakan pada hari minggu, dalam hati aku kurang berminat karena hari itu aku ingin pulang. Namun, ternyata pada hari itu aku tidak jadi pulang karena minggu itu sedang banyak-banyaknya tugas dari dosen. Mendengar teman-teman yang lain ikut, aku memutuskan untuk berpartisipasi juga.
Tanggal 28 Agustus 2010, tepatnya aku di beri tahu tentang acara itu. Aku dan yang lain diberi semacam arahan tentang seru nya acara itu. Aku dan yang lain pun menjadi ingin ikut. Malamnya kami semua langsung mengatur pembagian-pembagian sembako yang nanti akan dijual dalam acara tersebut nanti. Dalam 1 paket terdiri atas 3liter beras, 1botol sirup, 5 buah indomie, 1kaleng susu cair, dan minyak goreng. Satu paket sembako ini dijual dengan harga 25.000 rupiah (harga sebenarnya mencapai 60.000 rupiah).
Keesokan harinya, kami berkumpul di gedung A1 pukul 06.30 WIB. Sebelum berangkat ke tempat tujuan, kami semua diberi sebuah arahan bagaimana alur jalannya acara disana dan manfaat dari acara itu sendiri.
Mengapa paket sdembako tidak diberikan secara cuma-Cuma kepada masyarakat disana? Mengapa masih perlu membayar dengan sejumlah uang untuk mendapatkan paket sembako itu? Dan untuk apa hasil dari penjualan itu? Itulah pertanyaan yang terlintas di pikiranku. Tanpa di pertanyakan, para SR langsung menerangkannya, seakan-akan sudah tahu apa yang akan kami pertanyakan. Agar meraka terlatih hidup mandiri, walu kita member tapi member yang mendidik, itulah jawaban dari para SR. memang benar, jika kita memberikan paket tersubut scara cuma-cuma meraka akan malas untuk bekerja atau berusaha untuk mencari makan. Para SR juga mengatakanmengapa banyak orang kita yang lebih suka menjadi seorang pengemis daripada seorang pekerja? Itu dikarenakan, banyak orang kita yang mudah tersentuh hatinya dan akhirnya memberikan apa yang para pengemis itu mau yaitu uang. Bayangkan saja jika satu orang memberikan uang 500 rupiah, dikalikan dengan banyaknya orang yang memberi misalkan ada 30 orangperhari dan dikalikan lagi 30 hari maka penghasilan para pengemis sebesar 750.000 rupiah perbulan. Dari contoh itu saja dapat disimpulkan bahwa akan banyak orang yang lebih tertarik untuk menjadi seorang pengemis daripada menjadi seorang pekerja yang penghasilannya mungkin akan lebih rendah. Hasil penjualan nanti akan di sumbangkan kembali ke sebuah panti asuhan.
Selesai arahan, kami segera menuju kampung CIKARAWANG. Disana sudah banyak warga yang dengan sangat antusiasnya menunggu paket-paket sembako. Dalam hitungan beberpa jam saja semua paket sembako ludes di serbu para warga setempat. Mereka amat senag sekali mendapatkan paket dengan haraga yang sangat terjangkau oleh mereka.
Setelah acara itu selesai, aku terinspirasi untuk tidak lagi memberikan sesuatu kepada orang secara cuma-cuma (“cuma-cuma disini dimaksudkan bahwa mereka menerimanya dengan GRATIS, tanpa ada usaha) yang dapat mengurangi niat mereka untuk berusaha lagi dalam menjalani hidup mereka. Dan kita juga harus benar-benar pintar dalam memilih orang-orang yang ingin kita bantu, agar bantuan kita itu benar-benar bermanfaat bagi meraka tanpa mengurangi semangat mereka untuk bekerja.

Cerita Inspirasi 1

Nama : Audie Erincasari
NRP : C44100034
Laskar : 10

Cerita inspirasi kali ini terinspirsi dari pengalaman ku sendiri. Pengalaman ini terjadi saat aku berada di kelas 12, tepatnya di semester II. Saya mempunyai seorang teman bernama Eka Prabarini. Mungil, hitam manis, berkacamata, berkerudung, itulah yang bisa tergambarkan darinya.
Sebuah situs jejaring pertemanan “Friendster”, yang mengawali perkenalanku dengannya saat aku masih duduk dibangku SMP. Aku mulai berteman dengannya karena kami memiliki sebuah persamaan yaitu, kami sama-sama menggunakan kereta api sebagai alat transportasi kami untuk pulang pergi sekolah. “BOKER” (bocah kereta) itu adalah julukan bagi siswa-siswi sekolah kami yang pulang dan pergi ke sekolah menggunakan kereta api.
Lama-kelamaan kami semakin dekat, bahkan bisa dibilang dia adalah “sahabat” bagiku. Dia sangat baik dan peduli terhadap teman-temannya, termasuk aku tentunya. Saat aku sedang malas belajar , dia selalu menyemangatiku untuk semangat belajar lagi. Saat aku tidak mengerti pelajaran (khususnya bahasa inggris), dia pasti berusaha untuk membantuku, begitu pula sebaliknya. Kami selalu melengkapi satu sama lain. Curhat, bercanda, makan, fotobox, nonton,dan mengerjakan tugas, itu pasti kami usahakan untuk melakukannya bersama-sama.
Namun saat semesterII tiba, keanehan mulai terrasa darinya. Dia sering marah-marah sendiri, dia mulai menjauh dariku, aku juga mulai sering merasa dia “cuek” terhadapku. Keanehan yang ditampakkannya itu hanya saat pagi hingga istirahat pertama saja, setelah itu dia pasti kembali seperti biasanya. Awalnya, aku berpikir saat itu dia sedang mempunyai masalah yang tidak mau ia ceritakan kepadaku. Seiring berjalannya waktu , aku merasa ia mulai semakin jauh dariku. Ternyata bukan hanya aku saja yang merasakan itu semua, teman-teman dikelas juga merasakannya. Sempat waktu itu salah satu teman menanyakannya,”bang (panggilanku saat di SMA), lu kenapa ma si eka? Kok jadi jauh gitu?”. Dan aku hanya bisa menjawab,”gw juga ga tau tuh kenapa si eka!”. Saat pertanyaan yang sama ditujukan kepada eka, ia menjawab,”ga kenapa-napa kok, biasa aj gw ma si abang, emang ada apaan?”(seakan-akan memang tidak terjadi apa-apa), aku dan temanku hanya bisa tersenyum.
Aku yang mulai kesal, akhirnya memutuskan untuk diam saja dan pura-pura tidak terjadi apa-apa. Namun ternyata aku salah, dia semakin jauh dariku. Aku sempat menangis di dalam kelas karena aku merasa kesal, bingung, marah, sedih, kecewa atau apapun itu. Apa salahku? Kenapa ia begini? Itu yang ada dalam benakku saat itu.
Aku yang mempunyai sifat jelek yaitu “terlalu” memikirkan segala hal yang sedang aku alami (bisa dibilang “lebay”). Otomatis masalah ini menjadi beban pikiranku. Melihat aku yang seperti itu teman-temanku merasa perlu uktuk membantuku, ada yang memberi semangat, ada yang berusaha mengalihkan pikiranku dari masalah itu, ada juga yang marah kepadaku karena aku terlalu memikirkan masalah itu, dan ada juga yang berusaha mendekati eka untuk mencari tahu apa sebab dari masalahku ini dengannya.
Sampai akhirnya temanku tahu sebabnya dan segera memberitahuku. Katanya, eka ternyata marah kepadaku karena ia pernah tersinggung atas leluconku. Dimana saat itu aku yang sedang bercanda dengan teman-teman yang lain, dan aku bergurau,” Wanda, lu jadi mau ngambil Bakrie School?(saat itu siswa-siswi disekolahku banyak yang lolos dalam test disana dan Eka salah satunya) hati-hati wan dikit lagi kan bakrie mau bangkrut, gara-gara harus bayar hutang sama semua warga korban Lumpur LAPINDO”, hahahahahhahahah semua tertawa mendengar gurauanku itu, bahkan eka juga tertawa saat itu. Bisa dibilang aku adalah anak yang suka melucu dan bercanda , walau kadang aku tidak menyadarinya. Banyak teman-teman yang senang berteman denganku, tapi ternyata Eka tidak suka dengan gurauanku dan ia tersinggung.
Mendengar hal seperti itu (sebab masalahku dengannya), aku merasa sangat kaget, mengapa hanya karena gurauan yang bisa dibilang “sepele” dia bisa marah bahkan menjauh dariku. Namun terlintas dibenakku sebuah kalimat “Lidah lebih tajam daripada Pisau”, dari situ aku mulai sadar bahwa seseorang sangat bisa terluka atau tersinggung dari sebuah perkataan bahkan gurauan, walau gurauan itu sendiri belum tentu disengaja untuk menyinggung seseorang. Setelah mengetahui sebabnya, aku mulai mendekatkan diri dengannya dan berusaha untuk tidak menyinggungnya lagi, aku terus berusaha, berusaha , dan terus berusaha. Namun baginya sangat sulit untuk melupakan hal itu. Walau ia bilang sudah memaafkanku, tetapi ia tidak bisa lagi begitu dekat denganku seperti dulu, ia hanya ingin menjadi teman biasa saja (itu yang ia utarakan kepadaku). Kini kami hanya teman biasa, yang jarang bersama-sama seperti dulu.
Dari pengalamanku di atas, aku bisa menarik beberapa hikmah bahwa tidak semua orang dapat menerima “gurauan/lelucon” yang kita buat, kita juga harus bisa menempatkan “gurauan atau lelucon” itu pada saat dan tempat yang sesuai, kita juga harus bisa menyesuaikan diri kita di lingkungan sekitar kita, dan kita juga jangan terlalu memikirkan pendapat orang lain secara berlebihan karena belum tentu orang yang kita pikirkan itu juga memikirkan kita. Dan kini aku terinspirasi untuk bisa menempatkan diriku di lingkungan sekitarku, aku tidak bisa terlalu “konyol” dengan seseorang, apalagi dengan orang yang baru ku kenal. Namun aku juga tidak bisa menghilangkan sepenuhnya kebiasaanku ini yang suka bercanda, karena bagiku “Hidup Tanpa Tertawa, Bagai Sayur Tanpa Garam”. 😀
Sekian cerita inspirasi kali ini, mohon maaf bila ada salah kata/ penggunaan kata yang kurang baik dan terima kasih telah mau membacanya !!!